Mengenal Diri, Mengenal Sesama
Pengantar: 16 Cara Manusia Menjadi Dirinya Sendiri
Kamu pernah duduk di sebuah ruangan yang penuh orang — rekan kerja, teman lama, keluarga — dan tiba-tiba menyadari bahwa kamu tidak benar-benar mengenal siapa pun di sana. Bukan karena kamu tidak pernah bicara dengan mereka. Bukan karena mereka orang jahat. Tapi karena ada sesuatu dalam cara mereka berpikir, cara mereka merespons, cara mereka diam atau bersuara — yang terasa seperti bahasa asing yang tidak pernah kamu pelajari.
Atau mungkin sebaliknya. Kamu pernah bertemu seseorang — mungkin baru pertama kali, mungkin di tempat yang tidak kamu duga — dan dalam waktu singkat, percakapan mengalir ke arah yang tidak biasa. Tidak ada basa-basi. Tidak ada jeda canggung. Hanya dua orang yang tiba-tiba saling menemukan, seperti dua frekuensi radio yang secara kebetulan bersinggungan di gelombang yang sama.
Kedua pengalaman itu — keterasingan di tengah keakraban, dan keakraban di tengah keterasingan — bukan soal nasib atau keberuntungan. Sebagian besar, ia tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: bagaimana kita masing-masing dibangun. Cara kita memproses dunia. Cara kita membuat keputusan. Cara kita mencintai, bertahan, dan kadang — tanpa kita sadari — mendorong orang lain pergi.
Kita Selalu Menggunakan Diri Sendiri Sebagai Ukuran
Ada sebuah kecenderungan manusia yang hampir universal, dan ia bekerja begitu halus sampai kita jarang menyadarinya: kita cenderung mengukur orang lain dengan standar diri sendiri.
Kalau kamu adalah orang yang menyelesaikan masalah dengan bicara — mendiskusikan, mengurai, mencari solusi bersama — maka pasanganmu yang memilih diam dan menyendiri saat menghadapi tekanan akan terasa dingin, tertutup, atau tidak peduli. Padahal baginya, diam adalah cara paling jujur untuk berpikir.
Kalau kamu adalah orang yang membuat keputusan dengan cepat dan bergerak dari satu proyek ke proyek berikutnya, maka rekan kerjamu yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mempertimbangkan segalanya akan terasa lambat atau kurang inisiatif. Padahal ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari yang kamu bayangkan.
Para peneliti menyebut ini dengan berbagai nama — egocentric bias, false consensus effect — tapi intinya sederhana: kita secara default berasumsi bahwa orang lain melihat dunia seperti kita melihatnya. Dan ketika mereka tidak, kita tidak selalu berpikir "oh, mereka berbeda." Yang lebih sering muncul adalah: "oh, mereka salah."
Di sinilah banyak konflik dimulai. Bukan dari niat buruk. Bukan dari ketidakpedulian. Tapi dari ketidaktahuan yang sangat manusiawi — bahwa ada cara lain untuk menjadi manusia, dan cara itu sama validnya dengan caramu sendiri.
Manusia Selalu Berusaha Membuat Peta
Kita bukan generasi pertama yang mencoba memahami ini.
Sekitar 400 tahun sebelum Masehi, Hippocrates — yang namanya kita kenal dari sumpah dokter — sudah mengamati bahwa manusia tampaknya terbagi ke dalam pola-pola tertentu. Ia menyebutnya empat temperamen: sanguinis yang hangat dan optimistis, melankolis yang dalam dan analitis, koleris yang tegas dan berapi-api, flegmatis yang tenang dan stabil. Tentu saja ia mengaitkannya dengan cairan tubuh — yang secara ilmiah sudah lama kita tinggalkan — tapi kebutuhan yang mendorongnya membuat kategori itu tetap relevan sampai hari ini: keinginan untuk memahami mengapa orang berbeda, dan bagaimana perbedaan itu bisa diprediksi.
Ribuan tahun kemudian, Carl Gustav Jung — psikiater Swiss yang karyanya masih mewarnai banyak pendekatan psikologi modern — mengembangkan teori yang lebih terstruktur. Ia memperkenalkan konsep introvert dan ekstrovert, bukan sebagai sifat yang terlihat dari luar, tapi sebagai orientasi energi yang mendasar: ke mana seseorang bergerak untuk mendapatkan kembali dirinya sendiri — ke dalam, atau ke luar? Jung juga berbicara tentang fungsi-fungsi psikologis — cara kita mempersepsi dunia dan cara kita membuat penilaian — yang kemudian menjadi fondasi dari apa yang kita kenal hari ini.
Di pertengahan abad ke-20, seorang ibu dan anak perempuannya — Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers — mengambil teori Jung dan mencoba menerjemahkannya ke dalam sesuatu yang lebih bisa digunakan. Bukan sebagai alat terapi, tapi sebagai cara untuk membantu orang saling memahami di tempat kerja, dalam keluarga, dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah Myers-Briggs Type Indicator — atau yang lebih kita kenal dengan singkatan MBTI.
Setiap era punya caranya sendiri untuk membuat peta dari sesuatu yang tidak kasat mata. Dan di setiap era, kebutuhan yang mendorong pembuatan peta itu selalu sama: kita ingin dipahami. Dan kita ingin mampu memahami.
Apa Itu MBTI — dan Apa yang Bukan
MBTI bekerja dengan empat pasang preferensi. Bukan kemampuan, bukan nilai moral — hanya preferensi. Cara yang lebih alami, lebih nyaman, lebih "terasa seperti dirimu" dalam menjalani hidup.
Pasangan pertama tentang dari mana kamu mengambil energi: Ekstrovert (E) yang cenderung hidup lebih banyak di dunia luar — orang, percakapan, aktivitas — dan Introvert (I) yang cenderung menemukan diri mereka lebih utuh dalam kesendirian dan dunia dalam.
Pasangan kedua tentang bagaimana kamu menyerap informasi: Sensing (S) yang mempercayai apa yang konkret, terukur, dan nyata di depan mata — dan Intuition (N) yang cenderung bergerak di antara pola, kemungkinan, dan makna yang tersembunyi di balik fakta.
Pasangan ketiga tentang bagaimana kamu membuat keputusan: Thinking (T) yang cenderung mendahulukan logika, objektivitas, dan konsistensi prinsip — dan Feeling (F) yang cenderung mempertimbangkan dampak pada manusia, nilai-nilai personal, dan harmoni.
Pasangan keempat tentang bagaimana kamu mengorientasikan dirimu pada dunia luar: Judging (J) yang cenderung menyukai struktur, rencana, dan kejelasan — dan Perceiving (P) yang cenderung lebih nyaman dengan fleksibilitas, keterbukaan, dan biarkan sesuatu berkembang sendiri.
Kombinasikan keempat pasang itu, dan kamu mendapat 16 kemungkinan. Enam belas cara yang berbeda untuk menjadi manusia.
Tapi ada satu hal yang perlu kita sepakati sebelum melangkah lebih jauh — dan ini penting: MBTI bukan kotak. Ia bukan takdir. Ia bukan alasan untuk tidak berubah atau tidak bertanggung jawab atas perilakumu. Para peneliti juga tidak selalu sepakat tentang keandalan dan validitasnya sebagai instrumen ilmiah.
Tapi sebagai bahasa — sebagai cara untuk mulai berbicara tentang sesuatu yang selama ini sulit dikatakan — ia sangat berguna. Peta tidak pernah sama persis dengan wilayah yang dipetanya. Tapi tanpa peta, kita lebih mudah tersesat.
Empat Kelompok, Enam Belas Wajah
Enam belas tipe itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka berkelompok — empat kelompok yang masing-masing punya cara pandang yang berbeda tentang dunia dan tempat mereka di dalamnya.
Para Analis — INTJ, INTP, ENTJ, ENTP — adalah mereka yang melihat dunia sebagai sistem. Sistem yang bisa dipahami, diurai, dan kalau perlu, diperbaiki. Mereka hidup di kepala mereka sendiri dengan sangat nyaman, kadang terlalu nyaman. Otak mereka tidak punya tombol off. Dan mereka tidak selalu yakin apakah itu anugerah atau kutukan.
Artikel untuk masing-masing tipe: [INTJ] · [INTP] · [ENTJ] · [ENTP] — segera hadir.
Para Diplomat — INFJ, INFP, ENFJ, ENFP — bergerak lewat empati, nilai, dan koneksi yang terasa bermakna. Mereka adalah jiwa-jiwa yang sering membawa beban orang lain seolah beban itu milik mereka sendiri. Yang paling sulit bagi mereka bukan menghadapi dunia — tapi belajar bahwa mereka tidak harus menyelamatkan semua orang yang ada di dalamnya.
Artikel untuk masing-masing tipe: [INFJ] · [INFP] · [ENFJ] · [ENFP] — segera hadir.
Para Sentinel — ISTJ, ISFJ, ESTJ, ESFJ — adalah mereka yang menjaga. Mereka membangun, memelihara, dan bisa diandalkan dengan cara yang sering tidak terlihat justru karena bekerja terlalu baik. Mereka adalah alasan mengapa banyak hal di dunia ini masih berjalan — dan mereka jarang mendapat ucapan terima kasih untuk itu.
Artikel untuk masing-masing tipe: [ISTJ] · [ISFJ] · [ESTJ] · [ESFJ] — segera hadir.
Para Explorer — ISTP, ISFP, ESTP, ESFP — hidup paling dekat dengan momen kini. Mereka bergerak dengan naluri, berpikir dengan tangan, dan paling nyaman ketika dunia bergerak dan mereka bergerak bersamanya. Mengekang mereka bukan hanya tidak menyenangkan — ia terasa seperti mengambil sesuatu yang mendasar dari diri mereka.
Artikel untuk masing-masing tipe: [ISTP] · [ISFP] · [ESTP] · [ESFP] — segera hadir.
Cara Membaca Seri Ini
Seri ini bukan panduan. Ia bukan kuis yang memberimu jawaban tentang siapa kamu seharusnya. Dan ia tentu bukan daftar ciri-ciri yang bisa kamu centang satu per satu.
Ia lebih dekat ke undangan — untuk duduk sejenak bersama satu cara menjadi manusia, dan mencoba memahaminya dari dalam. Bukan dari luar dengan kacamata peneliti, tapi dari dalam dengan kepala dan hati yang terbuka.
Mungkin kamu akan membaca satu artikel dan merasa seperti seseorang akhirnya menuliskan sesuatu yang sudah lama kamu rasakan tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya. Itu pertanda baik. Tapi mungkin juga kamu akan membaca artikel yang sama dan berpikir tentang seseorang lain — teman yang sering membuatmu frustrasi, saudara yang tidak pernah kamu mengerti, atau pasangan yang kadang terasa seperti alien dari planet berbeda. Itu juga pertanda baik.
Karena pada akhirnya, memahami kepribadian bukan tentang memberi label. Ia tentang melatih diri untuk melihat bahwa ada lebih dari satu cara yang sah untuk menjadi manusia di dunia ini. Dan bahwa orang yang paling sulit kamu pahami mungkin bukan orang yang salah — mereka hanya orang yang berbeda. Dengan caranya sendiri yang sama rumit dan sama dalamnya dengan caramu.
Satu peringatan kecil sebelum kamu lanjut: jangan terlalu cepat memberi label pada dirimu sendiri — atau pada orang lain. Baca dulu. Rasakan dulu. Biarkan sesuatu mengendap sebelum kamu memutuskan ini tentang siapa.
Manusia terlalu kompleks untuk muat dalam empat huruf. Tapi empat huruf itu bisa jadi pintu yang sangat berguna — kalau kita tahu bahwa ia pintu, bukan penjara.
Sebelum Kita Mulai
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di awal perjalanan seperti ini: "Apakah tipe kepribadianku bisa berubah?"
Jawabannya lebih bernuansa dari sekadar ya atau tidak. Penelitian menunjukkan bahwa kepribadian memang bisa bergeser seiring waktu — terutama merespons pengalaman hidup yang besar, pertumbuhan yang disengaja, atau bahkan usia. Tapi preferensi dasarmu — cara kamu secara alami cenderung memproses dunia — cenderung lebih stabil dari yang kita kira.
Yang berubah bukan selalu tipenya. Yang berubah adalah seberapa baik kamu mengenal dan mengelola preferensi itu. Seorang introvert yang matang tidak menjadi ekstrovert — ia belajar bagaimana hadir di dunia yang sering dirancang untuk ekstrovert, tanpa kehilangan dirinya dalam prosesnya.
Dan itu, mungkin, adalah salah satu hal paling berharga yang bisa ditawarkan perjalanan seperti ini: bukan penjelasan tentang siapa kamu, tapi ruang untuk mengenali dirimu sendiri dengan lebih jujur dan lebih lembut dari sebelumnya.
Kita mulai dari kelompok pertama — Para Analis. Empat tipe yang percaya bahwa hampir semua hal bisa dipahami, kalau kamu cukup sabar untuk duduk bersamanya.
Selamat datang di perjalanan ini.
Seri Mengenal Diri, Mengenal Sesama akan membahas 16 tipe kepribadian MBTI secara bertahap. Artikel baru terbit secara berkala. Mulailah dari mana pun yang terasa paling dekat denganmu.
Kelompok Analis: INTJ · INTP · ENTJ · ENTP
Kelompok Diplomat: INFJ · INFP · ENFJ · ENFP
Kelompok Sentinel: ISTJ · ISFJ · ESTJ · ESFJ
Kelompok Explorer: ISTP · ISFP · ESTP · ESFP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar